[the_ad_group id=”54″]

 

Dan bagaimana rasa ini bisa terucap?
Beribu kata telah hadir di kepala
Namun, kata yang tak terucap tiada guna
Mengingat kembali manis dahulu
Mungkinkah kita akan bersatu?

Ujung tahun sudah di depan mata, tapi perasaan ini tetap di dalam dada. Oh, bagaimana caraku menyampaikan padamu? Bagaimana reaksimu terhadapku? Seperti hukum fisika, aksi dan reaksi. Kamu tahu, begitulah cinta. Mungkin para ilmuwan setuju bahwa cinta lebih rumit dari fisika. Kita tidak pernah tahu bagaimana cinta bekerja. Mengingat kata “cinta” membuatku pusing setengah mati. Namun, cinta tetap membuatku tersenyum tersipu malu

Mimpi-mimpi yang telah aku rangkai di awal tahun mungkin beberapa telah kucapai. Tapi, ada satu hal yang masih mengganjal. Ya, seperti yang telah ku sampaikan di awal, aku masih belum tau bagaimana bisa menyampaikan rasaku padamu. Aku tidak ingin menyampaikannya seperti anak SMP yang kasmaran, aku ingin menyampaikan dengan penuh gelora, agar kamu selalu mengingatnya. Jujur, kamu segitu berartinya buatku.

Boleh ku tahu bagaimana caramu menikmati akhir tahun? Apakah kamu butuh perayaan dengan makan mewah atau liburan panjang? Bagaimana jika kita menghabiskan waktu berdua saja sembari memakan jagung bakar menikmati kembang api yang menggelegar tersebut? Maukah kamu?

Mungkin, aku bukan lelaki yang romantis. Aku tidak bisa menuliskan puisi ala penyair. Aku juga tidak bisa membelikanmu barang mahal, aku bukan jutawan. Lantas, apa yang pantas aku berikan padamu?

Aku tidak mau berjanji dengan memberikan ini itu padamu. Janji membuat orang akan sakit hati bila tidak ditepati. Aku ingin suatu tindakan nyata. Seperti ini: aku mencintaimu. Jika kamu tidak percaya, marilah berjalan bersamaku. Kita mencoba membuat sebuah cerita baru menyambut fase yang baru. Sebuah cerita tentang kita berdua yang kitalah penulisnya. Hanya ada kamu dan aku.

Begitulah perasaan ini. Ketika aku tidak mengungkapkan padamu secepatnya, bukan berarti aku tidak serius. Bukan, aku hanya bingung dan takut. Bermacam perasaan menghantuiku, aku bingung harus mendengarkan perasaan yang mana. Namun, yang pasti, aku menyukaimu. Rasa yang telah lama kupendam, tetapi tak pernah padam.

[the_ad_group id=”54″]