[the_ad_group id=”54″]

 

Pagiku mendung, ia tak secerah biasanya. Ku tatap layar ponselku menunggu balasan darimu. Oh sial, belum juga ada balasan. Apa yang sedang kamu lakukan di sana? Apakah kamu dapat menikmati sarapanmu? Apakah tidurmu nyenyak? Ah, pikiranku tidak tenang. Aku rindu kamu.

Kamu tahu? Waktu memikirkanmu bukan saat malam hari di kesunyian, melainkan pikiran tentangmu terbayang malah ketika saat keramaian! Aneh, bukan? Aku bisa memikirkanmu saat istirahat makan siang yang sangat ramai, membayangkan makanan apa yang sedang kamu makan atau dengan siapa kamu makan siang. Di keramaian seperti ini pun aku tetap merasa sepi. Aku rindu kamu.

Aku sulit merangkai kata-kata indah untukmu. Aku takut hal itu terdengar cheesy dan terlalu melankolis. Tapi, aku lebih takut tak bisa berbicara denganmu lagi. Serius, mengapa kamu buat aku menjadi seperti ini? Perasaanku tak menentu seperti cuaca di musim pancaroba. Kadang aku kesal denganmu, mengapa bisa membuat aku merindu. Kadang aku sangat ingin bertemu denganmu hingga aku lupa bahwa ada jarak dan waktu.

Aku ingin mengajakmu ke tempat makan favoritku. Memang bukan restoran bintang lima. Tetapi, ku jamin rasanya tiada dua. Aku ingin melihat warna matamu dari dekat, tawamu yang renyah, senyummu yang jahil, ataupun keheningan kita berdua ketika menunggu makanan. Diam bersamamu pun akan kunikmati sebagai anugerah. Oh, bisakah aku? Atau kamu mau mengajakku ke tempat favoritmu? Menghabiskan waktu berdua, bercerita apa saja tentang dirimu, aku akan mendengarkan cerita itu meskipun telah diulang berapa kali. Aku menyukai suaramu.

Akhirnya, aku menyadari bahwa aku memang pengecut. Aku menyukaimu, sungguh. Tetapi, aku  tetap menyimpannya semua sendiri. Pernahkah kamu membaca surat cinta yang dituliskan oleh Beethoven dan ditujukan kepada  gadis yang paling dicintainya yaitu The Immortal Beloved? Di surat itu mengandung cinta yang mendalam, tulus, kesepian, serta keromantisan ala sang komponis. Tentu, aku bukan Beethoven. Tapi, ku kira jelas ada kesamaan antara aku dan Beethoven: kami berdua sama-sama tidak bisa memiliki orang yang kami sayang.

[the_ad_group id=”54″]