[the_ad_group id=”54″]

 

Dalam suatu percakapan

Oh dewi cinta
Bisakah aku bangkit dari kesedihan?

Oh, sayang
Nikmati rasa sedihmu itu sebagaimana kamu menikmati kebahagiaan

Oh dewi, aku tidak sanggup!

Oh, sayang
Taukah kamu bahwa kamu kuat?

Perlahan aku membuka jendelaku, aku mencoba menghirup udara pagi yang segar. Sinar matahari menyentuh pipiku. Teriakan anak sekolah yang berlarian menuju bis menyadarkanku bahwa aku harus keluar dari kamar.

Aku tidak boleh menyendiri terus. Aku harus keluar dari zona ini. Maksudku, aku tetap boleh menyendiri. Tapi, bukan berarti selama.

Aku mengenakan pakaian dan mulai keluar. Aku menyapa orang-orang yang kukenal dengan senyuman bahagia. Aku senang melihat kesibukan orang-orang. Aku melihat ibu-ibu yang sedang menawar sayur dengan pedagang yang membawa gerobak cokelat itu. Aku melihat orang-orang antri untuk membeli sarapan pagi. Ah, kesibukan yang menyenangkan!

Lalu, aku teringat tentang teman-temanku, orang yang aku sukai, dan kesibukanku. Apakah semuanya baik-baik saja? Apakah mereka masih mengenaliku?
Aku berusaha merajut kembali hubunganku dengan dunia. Aku mulai kembali menjadi diriku sendiri. Aku mulai meninggalkan zona nyaman: kesendirianku.

Aku memutar lagu yang kusukai di taman dan mendengarkan melalui earphone. Sesekali aku gigit roti cokelat sambil berusaha untuk mengingat kesenangan apa yang bisa aku lakukan. Ah, terlalu banyak yang bisa aku lakukan! Aku sampai bingung sendiri dengan pikiranku.

Aku membuka kembali media sosialku, aku mulai menyapa mereka yang pernah aku tinggalkan. Aku mulai menyebarkan humorku yang menurutku lucu. Betapa senangnya hatiku, mereka yang aku sapa mulai membalasnya. Mereka bertanya darimana saja aku? Kujawab dengan: dari tempat yang gelap. Mereka hanya tertawa.

Sebagai manusia, aku setuju kita mesti bersosialisasi. Aku mencoba bangkit dari kesendirianku. Aku bertemu dengan orang-orang baru. Mencoba untuk memahami bagaimana dunia bekerja, meskipun aku selalu gagal memahami manusia yang begitu kompleks. Namun, aku senang kembali bangkit dari kesendirian yang pernah aku alami. Aku tidak menyesal pernah sendiri dan terjebak dalam kesendirian. Dari situlah aku belajar akan berharganya diriku, namun setelah bangkit aku lebih menyadari bahwa diriku memang berharga dan tetap akan terus menjalani hidup dengan penuh keyakinan.

[the_ad_group id=”54″]