[the_ad_group id=”54″]

 

Bila engkau menatap ku pagi ini kau akan temui bening di sudut mataku. Bukanlah tanda kesedihan ataupun Rajuk kemarahan. Seperti yang kerap kau tuduhkan. Ini adalah ekspresi ku menatap mentari saat harus jauh darimu.

Bila engkau melihatku meringkuk di sofa siang ini aku janji tak akan ada bening itu lagi. Tahu mengapa? Karena semuanya telah mengering dibawa angin padang pasir. Aku tak sempat mencegahnya datang. Pun tak bisa menolaknya pergi. Laksana hujan yang datang begitu saja. Begitulah ia datang mengetuk pintu rumah kita.

Bila engkau pulang telat sore nanti. Kau pun tak akan melihat bening itu di sudut mataku. Bukan karena angin Padang pasir kembali membawanya pergi kali ini. Tapi memang sudah tak ada lagi. Kedatanganmu telah menghilangkan semua resah gelisah ku. Hingga tak ada alasan bening itu muncul jauh di dalam pupilku.

Ketahuilah sayang, saat malam beranjak menua dan seorang penari mulai memainkan selendangnya aku menatapmu dari sini. Tak berani mengganggu tidur mu. Pun tak tega merampas mimpimu. Biarlah ku peluk sendiri kelanjutan cahaya bintang.

Duhai sayang, bila safak merah muncul lagi di kaki cakrawala kau tak akan menemui ku di sudut ranjang. Jangan mencari ku. Aku telah jauh berjalan menuju perigi. Ke tempat dimana damai memeluk tubuhku dengan ringan. Ke tempat dimana bening di mataku hilang lenyap.

Kau mungkin telah lupa. Lupa pada kata-kata yang kau tulis dalam sepucuk surat merah jambu. Surat yang pernah ku terima sepuluh tahun lalu. Surat yang penuh keharuman mawar dan lukisan hati yang terpanah.

Ah, memori. Kuharap kau tak kena racun itu lagi. Racun yang memaksa mu menoleh kembali. Menoleh ke masa dimana cinta hanya ada untuk kita. Masa dimana namaku basah di bibirmu. Masa yang ingin ku tinggalkan selamanya.

Jangan. Jangan tengok lagi. Jangan cari lagi dimana. Tokh surat itu pun telah usang. Tokh cintapun telah hilang. Tak berbekas. Tanpa jejak di butir-butir pasir yang ku injak kini. Tanpa harum setangkai bunga. Sungguh.

Baca Juga :

Maka itu kuatkan dirimu. Biarkan aku melangkah. Tokh tinggal tak akan membuat bahagia. Seperti yang kau kata, bahagia hanya untuk orang yang mencintai karena cinta. Sementara kita? Kita hanya sepasang rama-rama yang mabuk asmara. Lalu terbakar kala terang menyala. Luruh semua sayap. Luruh semua dalam dekap.

Jadi, jangan ada bening yang sama di matamu. Tiap fajar merekah aku tak lagi di sana. Perigi itu telah membawaku jauh ke dasar. Dan kau? Kau tak akan mampu mencari ku. Percayalah.

Tahu mengapa? Karena cinta kita tak lagi sama. Arah kita telah berbeda. Langkah kita telah berpisah di persimpangan. Dan ini kenyataan. Kau harus menerima meskipun setitik luka pasti menganga. Terima lah ia. Biarkan luka itu ada. Dengan begitu kau masih nyata. Hanya manusia saja yang tahu apa arti luka. Jadi biarkan ia tetap ada.

Satu kupinta dengarkan aku lewat bisik angin pagi. Jangan tanya cintaku. Apa lagi menyangsikannya. Biarlah itu jadi memori. Setidaknya biarkan ia ada di sana. Di masa dimana kita pernah muda. Pernah merasakan manisnya cinta. Berlari di antara rinai hujan. Bercanda bersama di bawah rembulan. Menonton di pojokan studio yang temaram. Ah, kenangan. Biarlah itu tetap ada. Jangan usik kehadiran. Kau bisa memeluknya saat kau rindu. Karena aku tak lagi bisa bersamamu. Cintailah cinta terakhirku.

[the_ad_group id=”54″]