Jeda Dalam Diam

Terlahir dalam kesunyian
Tumbuh bersama harapan dan kepolosan
Belajar kokoh meraih harapan
Bersama pedulimu pendamping kepedulian

Tak pernah menyangka mengenalmu sebagai teman
Seiring waktu kamu hadir membawa jalinan peduli setia kawan
Sampai kita sepakat mengikat persahabatan
Pada harapan dan juga kepercayaan

Pada rindu yang kadang membuat cemburu
Ketika kau lupa menyisihkan waktumu
Berharap kamu datang memelukku ketika sembilu
Nyatanya ada jeda dibalik kesibukanmu

Berjalan menyusuri setapak tanpamu
Sahabat, aku kosong tanpamu
Kamu ada namun fatamorgana bagiku
Izinkan aku memelukmu dalam doa sepertiga malamku

Ingin kusampaikan namun enggan
Kesibukan yang membuat jarak tak kenal waktu
Pada sepinya malam terhantam kesunyian
Apa kabar sahabatku?

Desahan angin membuatku merengkuh harapan
Pada kesunyian yang menenggelamkan aku pada kekosongan
Dulu kita bersama pagi hingga petang
Kini semua hanya tinggal kenangan dan bayang

Pada bintang yang aku titipkan salam
Hangat dipelupuk mataku menggetarkan malam
Pada hati yang selalu temaram
Merindukan kabarmu memelukku dalam diam

Lisan yang kau jaga ketika aku merintih terluka
Kamu pun ikut luka berderai air mata
Kamu tak rela jika aku nestapa
Diammu mendengarku bercerita cukup mengobati lara

Pada bayangan yang tak bisa kugenggam
Melihatmu bahagia itu sudah cukup menjadi penenang
Bahagia melihatmu tersenyum terjaga pagi hingga malam
Pada Tuhan yang kusampaikan rindu tinggal kenang

Kini kita berjalan dalam koridor berbeda
Meski satu kota jeda ini membuatku koma
Koma dalam kesepian dan lupa bahagia
Kapan kamu ada waktu kembali mendengarkan cerita?

Waktu semakin cepat berlalu sampai aku lupa berhenti menunggu
Pada rindu yang kini telah kau bagi dengan pendampingmu
Aku pernah cemburu karena posisiku terganti
Aku bisa apa jika menjadi sahabat itu adalah takdir cerita ini

Aku belajar untuk membuka kembali jalinan persahabatan dengan yang lain, nyatanya kamu tetap istimewa tidak tergantikan. Terkadang aku tak memahami mengapa takdir ini hanya sebentar mengenalmu. Aku sungkan untuk menyapamu.

Pernah terbesit menemuimu dan menyampaikan semua hal yang aku rindukan. Nyatanya kakiku berat melakukannya. Ada ia yang kamu jaga hatinya. Sedang aku tahu diri hanya sebagai sahabat yang terlupakan.

Aku berusaha menyampaikan salamku untukmu, parahnya kamu berpura-pura tidak mengenalku. Benarkah separah itu kamu melupakanku? Atau sedari awal kamu memang tidak menganggapku menjadi sahabatmu?

Aku ingin marah, nyatanya aku melakukan sebaliknya. Berdiam diri tanpa melakukan apa-apa. Hanya ada kehampaan ketika tahu bahwa kamu tak ingin mengenalku. Kurasa semua harus terhapus melupakanmu seperti maumu, itu lebih baik.

Aku ingin berteriak menyebut namamu yang terakhir kali, nyatanya aku tak ingin dianggap gila. Mengagumi dalam diam sudah cukup bagiku. Jika pada akhirnya kamu tak ingin mengenalku kembali. Adakah kesalahan fatal yang kulakukan padamu hingga kadang aku bertanya pada makhluk di sekitarku.

Mereka diam, sembari memandangku penuh kasihan. Aku hilang, terlupakan dan terabaikan. Entah apa yang membuat jeda diantara kita sampai sefatal ini. Aku hanya ingin menjadi sahabatmu sedari awal. Nyatanya kesalahpaham lebih kuat dibanding rasa rindumu untukku dalam berbagi waktu.

Jika Tuhan memberi kesempatan, aku hanya ingin kamu datang kembali dalam hidupku, memelukku kembali dan berbagi cerita lagi. Sudah sejauh mana kamu berjalan meraih mimpi? Sudah sejauh mana kamu berjuang dalam mendekap rindu?

Tahukah kamu bahwa rindu ini sedari awal hanya untukmu. Meski kamu pernah menyuruhku berhenti, nyatanya aku membenci diriku sendiri. Sebab aku memang tak bisa berhenti merindukanmu, sahabatku.

Jika kamu merasa sepi, aku tetap di sini menunggumu kembali. Meski aku tahu kamu enggan menengokku lagi. Nyatanya aku akan tetap di sini mendampingimu hingga melihatmu meraih semua mimpi-mimpimu. Itu sudah cukup membuatku bahagia berada dan pernah mengenalmu.