[the_ad_group id=”54″]

 

Dan wajah itu tak pernah lepas dari ingatanku
Terbayang jauh tapi merindu
Bukankah sebenarnya kita sudah jauh?
Namun, mengapa semuanya terasa begitu indah?
Bisakah pertemuan itu membuat kita kembali seperti dahulu?

Semesta memang suka sebercanda itu. Berapa lama kita sudah tidak bertemu? Ah, tentunya sudah lama. Kamu terlihat berbeda. Lebih cantik dan tetap menawan. Jujur, mengapa kamu tetap bisa membuat jantungku berdegup kencang seperti yg sudah-sudah? Bolehkah kalau aku simpulkan pertemuan kita ini adalah benar-benar konspirasi semesta?

Kamu tahu apa yang aku rasakan? Sungguh, rasanya tidak karuan. Sini, biar aku jelaskan. Pertama, aku sangat sangat bahagia bertemu denganmu kembali. Bagaimana rasanya bertemu dengan cinta lama yang mungkin sebenarnya belum benar-benar usai? Sungguh, BAHAGIA! Setiap saat aku pastikan bahwa ini bukan mimpi. Mana mungkin mimpi senyata ini, ketemu gadis sepertimu? Ah, aku bisa gila kalau ini hanya mimpi.

Kedua, aku takut. Aku takut bahwa perasaanku ini hanya sepihak. Jujur, tidak dapat ku bayangkan jika selama ini rasa yang kupendam ini tidak terbalas. Mungkin, aku akan pergi ke Nusakambangan untuk memenjarakan diriku sendiri. Sungguh, sampai saat ini ketakutan ini masih merayap di pikiranku. Aku takut reaksimu terhadapku, aku takut menyakitimu, aku takut kehilanganmu. Ya, aku takut kehilanganmu lagi. Aku tidak mau pertemuan indah itu menjadi pertemuan terakhir. Oh, bisakah aku menangis seperti anak kecil sekarang? Ketakutanku sebesar itu.

Ketiga, aku marah. Aku marah kepada diriku sendiri. Aku memang bodoh. Sangat bodoh malahan. Mengapa aku tidak ada keberanian untuk mengungkapkan kepadamu? Mengapa aku biarkan kita saling diam? Mengapa aku tidak bisa menjadi jantan untuk menyampaikan perasaan ini? Kamu tahu aku mengutuk diriku sendiri karena aku sangat sangat menyesali kepengecutanku ini.

Baca Juga :

Kita diam seribu bahasa. Demi seluruh semesta, aku ingin mengetahui apa perasaanmu kepadaku. Bila semesta sudah mempertemukan kita kembali, mengapa kita hanya diam tidak melanjutkannya?
Aku tahu kamu bimbang, menentukan perasaan memang tidak semudah itu. Kita boleh menimbang dan berpikir terlebih dahulu agar tidak terjadi kesalahan. Tapi, bolehkah aku jujur? Bahwa aku mencintaimu, sungguh. Benar-benar mencintaimu, gadisku yang telah lama hilang.

[the_ad_group id=”54″]