[the_ad_group id=”54″]

 

Ku kira semua sudah baik-baik saja. Aku mencintaimu. Kamu pun sebaliknya. Kita bagai sepasang kekasih yang sangat bahagia. Aku tahu kamu memang mencintaiku. Tapi, mengapa kamu begitu?

Ku tanya kita ini apa, kamu tidak menjawab. Selalu kamu beri alasan jalani saja dahulu. Kamu tahu aku selalu bingung dengan alasan itu. Tetapi, apa yang kita jalani? Mengapa perjalanan ini tidak kita namakan?  Aku butuh penjelasan darimu. Sungguh.

Perjalanan ini indah, benar, aku akui itu. Kita saling kerja sama dalam merangkai ingatan manis dalam pengalaman ini. Tapi, mau ke manakah kita? Mengapa kita tidak ada tujuan bagaikan berjalan di lorong yang tiada batasnya?

Berulang kali aku memikirkan untuk meninggalkanmu. Namun, ketika terbersit pikiran seperti itu di kepalaku, lantas aku langsung menangis. Aku tidak bisa meninggalkanmu. Aku sungguh mencintaimu. Aku sudah mengecilkan egoku untuk bersamamu. Berharap agar kau mau berjalan searah denganku. Bersama kita membangun sebuah cerita baru, tentunya dengan judul baru, aku mau kita mempunyai  ikatan utuh itu. Maukah kamu?

Bolehkah aku jujur? Aku benar sudah lelah. Beribu kata jangan menyerah terhadapmu sudah aku gaungkan dalam kepalaku.  Terkadang, ketidakpastian ini begitu membingungkanku. Aku tidak tau apa arti kehadiranku di matamu. Apakah perasaan kita benar sama? Ataukah hanya aku yang berharap lebih? Oh Tuhan ini merisaukanku.

Aku ingin bersamamu. Aku ingin ada ikatan denganmu. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. Sungguh. Aku hanya meminta kepastian darimu, kekasih bayanganku. Kamu begitu dekat, tapi kita tidak terikat. Aku begitu mencintaimu, tapi kita tidak terpadu. Aku dan kamu bersama, tapi kita bukan pasangan asmara.

Sampai kapan aku harus bertahan seperti ini? Dalam cerita kasih yang tiada arti? Mengapa hanya aku yang berjuang menjadikan hubungan ini milik kita? Apakah aku harus meninggalkanmu?

Entahlah, aku tidak tahu. Aku memang mencintaimu, tapi aku tetap manusia biasa. Ketika kesabaranku tidak dihargai lagi, mungkin aku memang harus pergi. Seribu puisi mungkin akan menemani kepergian ini, menceritakan kisah tentang seseorang yang harus meninggalkan orang yang penuh ego .  Atau mungkin aku akan kembali, dalam kisah yang lain.

[the_ad_group id=”54″]