Pernah Sedekat Koma

Rintik hujan kembali mengantarku pada gigil malam. Membuyarkan berbagai lamunan yang meradang. Mengembalikan keping demi keping emosi yang memuakkan. Entah, sudah umpatan keberapa ini yang aku lontarkan.

Memori kembali mengajak bertualang, menyinggahi fase demi fase kehidupan di masa belakang. Dimana kita yang pernah sedekat koma, harus merasakan kerenggangan layaknya sejauh alinea.

Aku masih ingat sekali waktu itu. Saat pertama netra demi netra dari kita semua bertemu. Berawal dari teman sebangku, menjadi teman yang mempunyai satu tuju. Hari demi hari-pun kita lalui bersama, beriringan antara suka duka dan air mata.

Kita bahkan menangis bersama, saat akhirnya mengetahui latar belakang masing-masing keluarga. Dan aku, lagi-lagi dibuat bersyukur bertemu kalian. Karenanya aku tau rasanya bahagia tanpa ucap dan sebab.

Bukan apa dan siapa kita sehingga kita bersama. Bukan pula latar belakang itu yang menjadi alasan kita bersama. Hanya murni karena cinta, yang aku tahu kini di masa yang akan datang itu semua justru mengundang derasnya air mata.

Kita bahkan pernah berada di titik paling bawah. Saat semua mata menatap seolah kita tertangkap basah melakukan salah. Dan kini, aku baru ingat kembali, kala itu kita justru merapatkan gandengan dan menatap nyalang mata-mata mereka itu.

Satu yang kuingat bahwa kalian selalu tak henti berharap. Saat kenyataan akan perpisahan di ambang batas mata. Sebenarnya bukan perpisahan, hanya kelas kita yang akan di acak sesuai perkiraan. Tapi kita menanggapinya seolah itu adalah ancaman. Hahaha, jika mengingatnya aku masih tertawa saat ini.

Bukan hanya tawa yang menghiasi persahabatan kita. Karena tak jarang air mata lancang menyapa. Saling marah tak bertegur sapa, hingga akhirnya dipergunakan sebagai kesempatan oleh orang yang hina. Niat hati ingin memisahkan, apalah daya ikatan kita kuat tak terpatahkan.

Dengan cepat kita sadar atas apa yang mengancam. Hingga dengan kebesaran jiwa kita longgar-kan ego demi ego dan bermaaf-maafan. Kita kembali tertawa bersama, diselingi tangis dan tawa bahagia, menertawakan kebodohan yang sempat akan menghancurkan.

 

Hingga di suatu masa, layaknya hubungan percintaan yang dinodai orang ketiga, hubungan kita pun di datangi oleh mereka. Mereka baik dan asik dalam merenda sebuah ikatan baru, namun tetap saja, satu diantaranya sedikit menanamkan luka.

Kalian yang tidak sadar atau menutup mata dari kebenaran, entahlah aku tidak tahu. Dia yang kalian elu-elu kan itu menusuk kalian dari belakang. Karena mataku menangkap perbuatannya, ia pun menjauhkan kita untuk melancarkan aksinya.

Kalian tahu, seberapa nestapa nya hatiku saat tahu siapa yang lebih kalian percaya. Bahwa ternyata kebersamaan selama ini bisa sirna karena sebuah ucapan dari mulut hina. Entah aku yang terlalu berlebihan dalam sebuah hubungan, atau sikap kalian yang kini sungguh memuakkan.

Hingga akhirnya perpisahan itu benar-benar terjadi adanya. Bahkan tanpa saling tegur sapa dan kontak mata. Hatiku berkata ini ada yang salah, tapi egoku sudah memenuhi kesadaran alam bawah. Aku membiarkan ini semua berlarut-larut dalam kesalah pahaman.

Pada suatu kesempatan, aku bisa berbicara dengan salah satu dari kita, eum kalian maksudku. Ku utarakan kegelisahan yang menghantui selama ini. Dan ternyata ia merasakan hal yang sama dengar diri ini.

Berbekal keyakinan, kita berdua mencoba memperbaiki apa yang terjadi. Tapi sekali lagi ego yang menjadi aralnya. Aku lupa, bahwa diantara kita, ada satu yang sekeras karang. Bukan mudah meyakinkan tentang semua. Tapi setidaknya tak ada yang sia-sia.

Kini, aku berterima kasih pada alinea. Karena jaraknya, sebuah kalimat bisa dinikmati tanpa mengurangi keagungan maknanya.

Dariku, yang pernah sedekat koma, menjauh bagai alinea, dan kembali bertemu di titik lain yang sama.