Sebenarnya yang Kucinta Kau, atau Dirinya?

Baru saja aku bertandang ke ruang hati, kubuka pintunya yang masih terselot rapi. Setelah masuk ke dalam, astaga betapa berdebunya semua kenang yang terserak itu. Sudah lama tidak ku kunjungi ruangan ini. Dan hei! Lihatlah, betapa masih wajahmu yang terpateri disana.

Dulu, aku sempat bersama seseorang, dan kaupun tahu itu, bukan? Aku sempat tertawa tanpa alasan untuknya. Dan tentangmu? Kau tetap ada dan menjadi bayangan dariku. Hingga suatu ketika aku pun tersadar bahwa segalanya ada ditempat yang salah. Lambat laun waktu membuka tabirnya. Tentang siapa yang selalu ada saat aku di titik luka. Dan kamulah orangnya.

Hingga suatu saat dimana ketika aku mulai bergantung padamu, semua terjadi begitu saja. Entah kenapa tiba-tiba kau mendiamkanku. Bahkan, memandangku saja kau tak lekat. Dingin ini mulai kurasakan, serasa ada bagian dari diriku yang hilang. Dan akhirnya aku pun tersadar. Segalanya sudah tidak seperti dulu. Entah perasaanmu, atau sikapku padamu yang menyebabkan keheningan ini bermula.

Aku sadar aku terlambat. Terlambat menyadari sesuatu yang telah terjadi. Aku terlalu lugu dengan menganggap semua orang baik. Nyatanya, hadirmu justru menjadi bumerang bagiku. Kamu laksana permata di tengah logam lainnya. Jelas saja kau yang paling dipuja. Dan aku lupa itu, aku masih berfikir kau masih orang yang sama, yang akan membelikanku segelas teh hangat ketika masa tamu bulananku datang dan sakit di perutku menyerang.

Entah aku yang mulai sadar atau perasaanku yang mulai memudar, ada seseorang yang datang menawarkan pendar. Logika memerintahku untuk meraihnya, namun hatiku masih bertahan pada satu nama. Hingga pada suatu masa sang pemilik pendar menjanjikan sebuah kejelasan. ‘Bukankah akan sangat rugi jika aku menyia-nyiakannya?’ ujar otakku. ‘turutilah kata hatimu, ia yang mengerti dirimu’ sanggah salah satu ruang di dadaku. Lalu aku harus bagaimana?

Sebenarnya yang kucinta itu kau atau dirinya? Terjebak di dalam labirin waktu yang serasa tak ada sudahnya. Maju serasa tak ada daya, akan mundur-pun aku sudah putus asa. Segala sesuatu tentangmu begitu nyata terlihat, sedang apa yang ada pada dirinya bisa begitu saja aku dapat. Andai kau tau, bahkan setelah ribuan hari dan jutaan waktu berlalu, nyatanya setiap namamu disebut masih saja menyisakan pilu. Aku masih rindu dengan semua kenangan itu. Saat kau dan aku, dan tatapan mata itu berakhir menjadi temu.

Suatu masa, aku pernah berpikir untuk belajar mencintai seseorang yang juga mencintaiku saja. Setidaknya disana aku tidak akan berjuang sendirian. Namun sekali lagi aku salah. Ternyata pura-pura tidak mencintaimu itu lebih menyakitkan daripada pura-pura mencintai orang lain. Aku tidak sedang berirama dengan luka ataupun bermain drama dengan air mata. Aku hanya ingin kau tau bahwa setia itu masih ada. Namun sekali lagi, yang ku cinta sebenarnya siapa?

Mungkin disini memang aku yang salah. Salah mengartikan perhatianmu dulu, salah mengartikan senyumanmu itu, salah kaprah dalam segala hal tentangmu. Dan kini aku hanya bisa berpura-pura. Karena terkadang, kita perlu berpura-pura tidak mengetahui terhadap sesuatu yang sudah pasti menyakiti. Saat ini, aku hanya ingin mendidik hatiku agar lebih pandai menaruh rasa. Ada beberapa masalah yang tidak perlu terjadi sebenarnya jika aku tahu dimana harus meletakkan rasa. Bila perasaan ini sedikit saja menjadi terdidik.

Terima kasih untuk kamu, warnamu, canda-tawamu. Setidaknya, aku lebih membutuhkan ia yang datang membawa pendar kejelasan. Sulit memang, tapi aku memilih melabuhkan rasa pada dirinya, pada akhirnya.