[the_ad_group id=”54″]

Aku terdiam di sudut ruang kedap suara

Memandang catatan tak bersuara

Rentetan alinea berjajar rapi bercerita

Kata demi kata jadi saksi bisu cerita kita

 

Entah sejak kapan tiap bait menjadi kamu

Manisnya hadirmu membuat degup jantung tak menentu

Bait tiap bait bernostalgia mengenangmu

Entah sejak kapan kata itu berpuisi ria menyebut namamu

 

Waktu berlalu hingga kakiku kaku

Mengejar jejakmu yang memudar berlalu

Mataku perih kering menangisimu

Sesal mengendap di hatiku

 

Aku atau kamu dalam keangkuhan ini?

Aku atau kamu yang tak ingin mengalah?

Aku atau kamu dalam lara dan rindu?

Ataukah hanya aku menunggu setia tanpa kamu

 

Kita pernah menunggu senja bersama dalam penantian hujan. Mendekap kesunyian dalam bahtera tangisan. Menceritakan lara dan bahagia dalam waktu yang sama. Menangis dan tertawa bersama. Apa kamu ingat? Atau hanya aku yang masih dengan detail mengingatmu.

Jarak nyatanya adalah satu-satunya alasan semakin jarang bertemu. Ada ruang sepi menghantam kalbu. Kita seringkali merasa sendiri berada di antara keramaian. Kamu kucari dalam ingatanku, kemanapun aku pergi. Sesekali mendatangi tempat dimana pernah kita singgahi. Hanya untuk mempercepat waktu, memastikan kita segera bertemu.

Rintik hujan datang membawa pulang hangatmu dalam ingatanku. Sementara tubuhku harus kuat menikmati dinginnya kenangan tentangmu. Demi semua yang kita sepakati, aku sabar menanti. Semua perjuangan cinta ini akan kita nikmati nanti. Aku percaya bahwa bahagia akan indah pada waktunya.

Ketika senja datang, hadirmu menghampiri. Dan saat hujan kembali pulang, kamu satu-satunya seseorang yang kunanti. Terkadang rasa sesak ini tidak terkendali. Terkadang pula air mata menjadi hujan yang aku sembunyikan.

Aku tahu ini berat ketika keputusan untuk melepaskan sesuatu yang terikat kuat dimana kita sama-sama sepakat. Rindu terkadang lebih tajam dari pisau dimana terasa pilu menyayat hati.

Aku percaya bahwa di masa depan pada senja tak lagi sepi. Kamu satu-satunya yang kupeluk erat sepenuh hati ketika dalam segala kondisi. Tak ada lagi jeda atau jarak menakut-nakuti. Sebab kau tak lagi di sisi.

Bila saat telah tiba, aku berharap waktu lebih lambat dari biasanya. Agar aku lebih lama menatap matamu yang mempesona. Agar kita dapat menikmati senja bersama. Juga menikmati hujan yang sempat membuat kita gila.

Menatap senja, sama indahnya memandang matamu. Aku tak pernah bosan mengenai hal itu. Matamu selalu berhasil memenangkan hatiku yang gusar. Memandangku cukup menjadi obat segala penat.

Memandang matamu membuatku tak ingin berpaling, membuat melihat diriku semakin dalam, aku ingin tetap terjebak lama di matamu. Aku suka berlama-lama duduk di sampingmu. Hanya ingin diam menatapmu saja.

Itu sudah cukup berhasil mengusir lelah yang mencabik tubuhku. Lalu kita berdua menikmati udara sambil menatap senja. Dalam hati aku selalu berdoa, agar denganku saja kamu tetap tinggal tidak kemana-mana.

Nyatanya senja tak lagi sama, nyatanya senja tak lagi ada. Senja telah berlalu di kepalamu. Senja hanya ada saat kita kenang. Kamu memilih pergi tanpa berpamitan. Kamu lebih memilih ia dibanding aku. Mungkin kamu lebih berbahagia dengannya dibanding bersamaku.

Aku memilih diam dan melupakan semua. Bahkan bait-bait kata tertulis cukuplah jadi kenang diantara kita. Aku berusaha melakukan cara yang sama. Belajar mengikhlaskan kepergianmu. Mungkin Tuhan punya cerita berbeda untuk kita berdua. Berjalan di koridor yang berbeda. Menjalani hidup dengan cara terpisah.

Biarlah semua tinggal kenang tentang kamu, hujan, aku dan senja. Esok kita jangan saling menyalahkan. Berpura-pura tak saling mengenal, hanya itu cara satu-satunya memulai dan mengakhiri cerita kita yang tak lagi sama.

[the_ad_group id=”54″]