[the_ad_group id=”54″]

 

Hari telah lama berganti sejak angin dan hujan membawa kau pergi. Sayang, hatiku masih saja membiru. Enggan beranjak ke dalam jua tinggal di beranda lama-lama. Kupacu jiwaku menjauh dan itu cuma sia-sia. Setiap jalan yang kulalui masih saja penuh dengan ceritamu. Aku kecewa.

Ingin ku lebur semua kenangan. Apa daya semua cuma angan. Tangan yang gagal menggapai membuat air mata kian deras di ujung hari. Menukik tajam di persimpangan. Aku coba memahami lagi mengapa kau pergi. Tapi bisakah kau kembali setelah itu. Atau justru hanya menambah luka dan duka bagi kita. Ah, sudahlah. Aku memilih duduk diam.

Nasehat demi nasehat, canda dan tawa yang kau beri memenuhi relung memori. Aku kian tak bisa lari. Kupunguti semua percakapan waktu itu. Berharap ada benang merah yang tertinggal. Bukti nyata kau meminta bantuan. Ah, lagi-lagi angin dan hujan mengaburkan pencarianku. Terkesima Aku di panggung malam. Semua cuma bayangan bulan.  Aku gagal, sahabat.

Kini di balik malam aku hanya bisa duduk termangu. Mencoba mendekati bayangmu yang kian tak jelas. Mencoba meraih jemarimu yang kian hilang. Senyum pun tinggal sekilas. Tirai hitam telah begitu tebal memisahkan. Hingga kata pun tak lagi terdengar.

Jujur, aku tak mampu. Setidaknya menepis bayang-bayangmu. Kebaikan dan kasih yang kau tunjukkan laksana hangat mentari bagi tubuh yang kedinginan.

Baca Juga :

Kau, hanya kau yang anggap aku ada. Ada karena aku bicara. Meskipun pahit terdengar tapi manis di rasa. Kau terima apa adanya. Tanpa dendam. Tanpa kebencian. Berdua kita berjalan bergandengan tangan. Hingga batas akhir perjanjian kehidupan. Kita terpaksa jalan berseberangan. Meskipun diam-diam kita saling menyayang.

Saat semua terlihat begitu cerah. Setidaknya secerah pelangi yang muncul di kala senja. Kau pergi tanpa sepatah kata dan senyum. Tubuh nan ringkih. Kulit yang mengeriput seolah semua sampaikan duka nan dalam. Di siang yang terik itu kau tak lagi menjerit. Diam seribu bahasa.

Tergugu aku di sudut ruangan. Menatapmu tanpa binar. Mengingatmu dalam keheningan. Menciummu dalam kebekuan. Aku jatuh pingsan.

Lalu daun-daun yang berguguran menyambutmu pulang. Tanah yang merah seolah memelukmu erat. Bumi menerimamu dalam segala kasihnya. Berharap mampu tenggelamkan semua duka yang kau punya. Namun semua hanya harap orang-orang yang mencintaimu. Harapan yang entah nyata atau tidak.

Di ujung persimpangan aku terdiam. Tak mampu lambaikan tangan. Bahkan berjabat pun cuma ada dalam angan yang kepagian. Semua hilang dalam pandangan. Pelan perlahan kau pergi. Bersama ujung pelangi kau bawa semua warna. Tersisa satu saja bagiku kau lempar. Lembayung.

Lembayung kini teman setia. Pengganti wajah dan jua jiwa. Menemani ku berjalan dalam luka. Penasaran akan akhir yang begitu penuh kecewa. Siapakah dia yang tega membuatmu jadi begitu tersiksa?

Yah… cuma lembayung kawan ku setia. Pengganti diri dan senyummu. Temani aku dalam semua lagu di setiap kelokan jalan yang kulalui. Memayungiku dalam kasih yang tak lagi ragu. Berharap penuh jawab tentang tanyamu tersimpan di sana. Sebelum ujung penghabisan.

Kini biarlah sepenggal kisah kusampaikan padamu. Di bawah kemboja biarlah kau damai selamanya. Bersama doa dan kenangan yang ku punya. Semoga semesta memelukmu penuh cinta. Walaupun ku tahu kau tiada percaya. Seperti dulu saat kita masih bersama. Kau bilang kisahku hanyalah khayalan tak bertepi. Kau bilang semua cuma laku di pasar loak. Aku tak peduli. Seperti kini aku memilih sama. Memunguti semua memori tentangmu sebelum kemboja terakhir layu.

[the_ad_group id=”54″]